antara asap dan sunyi: kegelisahan ingin berhenti merokok
Ada hal-hal yang tak bisa dibungkus logika, meski tubuh tahu mana yang baik, dan mana yang perlahan membunuh.
Merokok, buatku, bukan sekadar kebiasaan. Ia seperti teman lama—yang tahu kapan aku sedang kacau, kapan pikiranku berisik, atau kapan aku cuma butuh hening yang bisa ditarik dalam-dalam, lalu dihembuskan pelan-pelan.
Tapi belakangan, kehadirannya bukan lagi menenangkan. Ia berubah jadi bisikan kecil yang menuduh: “Kamu lemah tanpaku.”
Setiap kali aku ingin berhenti, gelisah datang duluan. Bukan gelisah karena tak kuat, tapi karena aku tahu—ini bukan cuma tentang nikotin. Ini tentang ruang kosong yang akan ditinggalkan rokok, dan aku belum tahu apa yang bisa menggantikannya.
Rokok adalah jeda. Ia jadi titik koma di tengah hari yang berantakan. Tapi sekarang, aku mulai bertanya: apa gunanya jeda, kalau perlahan aku tak sanggup lagi menulis kalimat setelahnya?
Kadang aku iri pada mereka yang bisa berhenti tanpa ragu. Mereka yang bisa memilih sehat tanpa harus berdamai dengan hampa. Aku ingin jadi seperti itu—tapi jujur, aku takut.
Takut kehilangan pegangan saat dunia terasa terlalu cepat. Takut menghadapi hari yang panjang tanpa ritual kecil itu. Takut, kalau berhenti merokok berarti aku harus berdamai dengan kegelisahan yang selama ini kututupi dengan asap.
Tapi mungkin, justru di kegelisahan ini, ada awal dari keberanian. Barangkali, yang perlu kulakukan bukan melawan rasa ingin merokok—tapi mulai belajar mendengarkan rasa yang kutekan di baliknya.
Dan kalau harus mulai dari satu hari tanpa rokok, biarlah itu hari ini.