Bagaimana Kalau?
Sebenarnya ini bukan soal filosofi.
Ini soal rakus.
Aku lihat seseorang, lalu berpikir:
“menarik.”
Tapi di saat yang sama, aku juga tahu—
di luar sana pasti ada yang lebih.
Lebih cantik.
Lebih nyambung.
Lebih… apa pun yang belum aku temukan.
Dan pikiran itu tidak hilang
meskipun aku sudah punya seseorang di depan mata.
Aku tidak selalu ingin pergi.
Tapi aku juga tidak sepenuhnya ingin tinggal.
Ada bagian dalam diriku yang seperti menolak final.
Menolak memilih satu hal dan menutup kemungkinan lain.
Bukan karena aku bijak.
Tapi karena aku takut salah pilih.
Atau lebih jujur lagi—
takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah aku punya.
Kadang aku bertahan,
tapi sambil diam-diam membandingkan.
Kadang aku pergi,
bukan karena yang lama buruk,
tapi karena penasaran dengan yang baru.
Dan anehnya,
setelah pindah pun, pola itu tidak hilang.
Selalu ada yang lain lagi.
Mungkin ini bukan tentang siapa di luar sana.
Mungkin ini tentang sesuatu di dalam diriku
yang tidak pernah benar-benar puas.
Atau mungkin…
aku memang belum siap untuk benar-benar memilih.
Karena memilih berarti berhenti bertanya:
“bagaimana kalau?”
Dan jujur saja—
aku masih suka pertanyaan itu.