Ada kalimat yang sering terdengar akhir-akhir ini: “Indonesia orangnya mabuk agama.”
Kalimat ini mudah memicu emosi. Tapi mungkin masalahnya bukan pada iman, melainkan pada cara agama dipakai di semua ruang tanpa membedakan fungsi dan konteks.
Ada kalimat yang sering terdengar akhir-akhir ini: “Indonesia orangnya mabuk agama.”
Kalimat ini mudah memicu emosi. Tapi mungkin masalahnya bukan pada iman, melainkan pada cara agama dipakai di semua ruang tanpa membedakan fungsi dan konteks.
Pendidikan dan hiburan sama-sama menyentuh jiwa manusia. Namun keduanya tidak menyentuh jiwa dengan cara yang sama.
Di ruang belajar, manusia butuh keraguan. Di ruang hiburan, manusia butuh penghiburan.
Maka pertanyaannya bukan: Apakah Tuhan penting?
Di ruang mana Tuhan perlu bicara, dan di ruang mana Tuhan perlu diam?
Bayangkan seorang anak bertanya:
“Mengapa ikan bisa bernapas di air?”
Dan jawabannya adalah: “Karena Tuhan mengizinkan.”
Jawaban itu tidak salah secara iman. Namun ia menghentikan pencarian.
Tidak ada insang. Tidak ada difusi oksigen. Tidak ada proses belajar.
Dalam konteks ini, Tuhan bukan jawaban.
Ia menjadi titik henti.
Namun di ruang lain—dalam lagu, tawa, dan air mata—Tuhan justru dibutuhkan.
Bukan untuk menjelaskan dunia, tetapi untuk membuat dunia terasa layak dijalani.
Masalah muncul ketika kita mencampur fungsi.
Ruang bertanya diisi jawaban mutlak. Ruang merasa dipaksa logika.
Mungkin yang kita butuhkan bukan Tuhan yang selalu bicara.
Tetapi Tuhan yang tahu kapan harus diam.
Karena hidup kadang berarti tahu kapan harus bertanya—
dan kapan harus percaya.