Kita hidup di zaman yang sangat bising.
Bukan karena dunia lebih ramai, tetapi karena kita semakin jarang memberi ruang pada diam.
Kita hidup di zaman yang sangat bising.
Bukan karena dunia lebih ramai, tetapi karena kita semakin jarang memberi ruang pada diam.
Setiap jeda segera diisi.
Notifikasi. Musik. Suara latar.
Seolah sunyi adalah kesalahan yang harus diperbaiki.
Padahal, sunyi bukan ketiadaan.
Ia adalah ruang tanpa penonton.
Tempat pikiran berhenti tampil.
Sunyi bukan kosong.
Ia hanya tidak menawarkan distraksi.
Di ruang sunyi, pertanyaan muncul tanpa undangan.
Tentang arah hidup.
Tentang luka yang belum selesai.
Tentang siapa kita tanpa peran.
Mungkin itu sebabnya sunyi dihindari.
Bukan karena ia menyakitkan,
tetapi karena ia jujur.
Kebisingan memberi ilusi bergerak.
Sunyi memaksa kita berhenti dan melihat.
Tidak semua yang bergerak sedang pergi ke mana-mana.
Di dunia yang menuntut respons cepat,
sunyi terasa tidak produktif.
Padahal, banyak keputusan buruk lahir
bukan dari diamβ
melainkan dari terlalu cepat bicara.
Sunyi bukan jawaban.
Ia hanya ruang agar jawaban tidak lahir tergesa-gesa.
Mungkin kita tidak perlu lebih banyak suara.
Mungkin kita hanya perlu
berani tinggal sedikit lebih lama
di ruang yang tidak menyela.
Karena di sanalah,
kita akhirnya mendengar diri sendiri.