Ada masa ketika suara-suara di sekitar tetap ada, namun terasa seperti datang dari kejauhan.
Saat Pikiran Lebih Ramai Dari Suara

Bukan karena telinga berhenti bekerja, melainkan karena pikiran sedang terlalu penuh.
Aku sering dianggap melamun, padahal yang terjadi bukan kehilangan perhatian.
Yang terjadi adalah perpindahan perhatian—dari luar ke dalam, dari suara ke makna.
Saat terlalu lama menahan emosi, otak mencari ruang aman.
Dan ruang itu sering ditemukan di dalam kepala sendiri.
Di sana aku menyusun ulang kejadian, mengulang percakapan yang tak pernah selesai.
Atau sekadar diam, tanpa tuntutan untuk merespons siapa pun.
Dalam keadaan seperti itu, pendengaran bukan hilang—hanya dikecilkan volumenya.
Bukan karena dunia tak penting, tetapi karena aku sedang kelelahan menjangkaunya.
Aku hadir secara fisik, namun sebagian diriku sedang istirahat.
Ini bukan sikap acuh, bukan pula ketidakpedulian.
Ini adalah cara bertahan saat terus-menerus diminta kuat dan sadar penuh.
Merenung menjadi jeda. Hening menjadi perlindungan.
Ketidaksigapan mendengar bukan tanda rusak, melainkan tanda terlalu lama bertahan tanpa ruang pulih.
Mungkin yang kubutuhkan bukan teguran agar lebih fokus, melainkan izin untuk berhenti sejenak.
Karena tidak semua diam adalah penolakan.
Kadang, itu hanya napas yang tertunda, menunggu waktu untuk kembali utuh.