Tidak semua diam itu tenang.
Ada diam yang justru terasa mengancam.
Tidak semua diam itu tenang.
Ada diam yang justru terasa mengancam.
Diam di ruang rapat.
Diam di meja makan.
Diam ketika semua menunggu persetujuan.
Di situ, diam bukan jeda.
Ia dibaca sebagai sikap.
Sebagai penolakan yang tidak diucapkan.
Tidak berbicara pun tetap dianggap berbicara.
Karena dunia sosial dibangun dari sinyal.
Dan diam adalah sinyal yang paling ambigu.
Bagi sebagian orang,
diam terasa seperti ancaman.
Seolah ada penilaian yang disembunyikan.
Maka diam sering dipaksa untuk bicara.
Diterjemahkan.
Dicurigai.
Yang sunyi sering dianggap sedang merencanakan sesuatu.
Padahal, tidak semua diam menyimpan niat.
Sebagian hanya mencoba memahami.
Sebagian hanya lelah menjelaskan.
Namun di dunia yang menuntut kejelasan cepat,
diam dianggap keterlambatan.
Atau ketidaksopanan.
Mungkin yang mengancam bukan diam itu sendiri.
Melainkan ketidakmampuan kita
hidup bersama ketidakpastian.
Karena tidak semua hal perlu segera dijelaskan.