Velinor

Sunyi (3): Mendengar Tanpa Jawaban

Ada saat ketika kita ingin didengar,

namun yang kita cari sebenarnya bukan jawaban.

Kita terbiasa mengisi keheningan.

Memberi saran. Menawarkan solusi.

Seolah setiap dengar harus berujung selesai.

Padahal, tidak semua yang diucapkan

sedang meminta ditutup.

Mendengar tidak selalu berarti mengerti.

Terkadang ia hanya berarti hadir.

Di hadapan luka,

jawaban sering terasa terlalu cepat.

Ia melompati rasa yang belum sempat bernapas.

Mendengar tanpa jawaban

terdengar pasif.

Padahal ia menuntut keberanian lain:

tidak menyela.

Kita cemas pada ruang kosong.

Takut dianggap tidak membantu.

Takut terlihat tidak tahu.

Tidak semua keheningan meminta diisi.

Ada kalanya,

yang paling dibutuhkan seseorang

bukan kepastian,

melainkan ditemani dalam ketidakpastian.

Mendengar tanpa jawaban

bukan tanda menyerah.

Ia adalah bentuk hormat

pada proses yang belum selesai.

Karena tidak semua yang datang

ingin pergi dengan simpulan.

#publik