Velinor

Sunyi Yang Tak Lagi Kita Takuti

Tidak semua diam itu netral.

Ada diam yang menenangkan.

Ada pula diam yang perlahan berubah menjadi ancaman.

Diam bisa lahir dari kebijaksanaan.

Namun ia juga bisa lahir dari ketakutan.

Dari kelelahan.

Atau dari kebiasaan menahan diri terlalu lama.

Kita sering memuji diam.

Sabar. Dewasa. Tidak reaktif.

Padahal tidak semua yang tenang benar-benar utuh.

Ada diam yang bukan pilihan.

Ia hanya tidak punya ruang untuk bicara.

Diam yang terlalu lama bisa mengikis batas.

Membuat hal yang salah terasa normal.

Membuat yang menyakitkan terasa pantas diterima.

Ketika suara tidak pernah keluar,

ia tidak menghilang.

Ia hanya berpindah.

Yang dipendam tidak mati.

Ia menunggu bentuk lain untuk muncul.

Banyak kemarahan lahir

bukan dari konflik besar,

tetapi dari terlalu lama tidak didengar.

Maka diam perlu disadari.

Bukan hanya dijalani.

Apakah ia menjaga?

Atau justru menekan?

Karena tidak semua keberanian berbentuk suara keras.

Tapi ada saat di mana berbicara

adalah satu-satunya cara agar diri tetap utuh.

#publik