Surat-surat yang Terlambat Tapi Tidak Terlalu Terlambat
Balasan dari Ee yang Kecil
Tentang Perintah yang Terlalu Cepat dan Dunia yang Terlalu Keras
Hai...
Jujur aku agak bingung waktu kamu tiba-tiba datang dan menulis surat.
Awalnya aku takut, karena aku terbiasa sendirian.
Aku pikir kamu juga akan lewat saja, seperti semua orang yang buru-buru.
Tapi suratmu... terasa beda.
Kamu tidak menyuruhku apa-apa.
Kamu tidak bilang aku harus kuat, atau harus cepat.
Kamu cuma duduk di sampingku—dan menunggu aku siap menjawab.
Mungkin kamu lupa, tapi aku masih ingat semuanya.
Aku ingat suara-suara yang terlalu keras.
Ingatan yang cepat datang tapi lambat pergi.
Aku ingat tangis yang kutelan karena aku tak tahu apakah menangis itu boleh.
Tapi hari ini, entah kenapa, aku percaya.
Aku percaya kamu benar-benar ingin mendengar.
Aku percaya kamu bukan datang untuk menyalahkan, tapi untuk memahami.
Dan kalau kamu bertanya padaku sekarang...
Aku ingin bilang satu hal:
“Terima kasih karena tidak lagi mencoba membuatku kuat.
Tapi memilih untuk membuatku aman dulu.”
Karena itu yang paling aku butuhkan sejak dulu.
Jangan buru-buru ya...
Tetap temani aku. Meskipun kadang aku masih diam.
Karena pelan-pelan... aku sedang belajar percaya bahwa dunia ini bisa juga lembut.
Dan kamu adalah buktinya.
Terima kasih sudah datang pulang.
—
Dari Ee yang kecil,
yang sekarang mulai membuka tangan untuk dipeluk kembali.