Aku menerima THR tanpa sorak, hanya tarik napas.
THR
Jumlahnya tak mengubah apa-apa, tapi cukup menahan hari agar tidak runtuh.
Hari raya datang dengan banyak tuntutan, sedikit ruang.
THR bukan perayaan—ia pegangan kecil di tengah arus.
Aku tidak menjadi lebih mampu, hanya masih berdiri.
Syukur hadir diam-diam, berdampingan dengan lelah yang belum selesai.
Di balik angka itu, ada batas minimum agar hidup tetap berjalan.
Dan aku menerimanya bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai bukti bahwa hari ini aku masih bisa melanjutkan.
Terima kasih, bukan karena jumlahnya, tapi karena hari ini aku masih bisa bernapas sedikit lebih lega.